Mendowan

Cerita-cerita, Berita, Kritik, Suara Rakyat

Global Warming, siapa yang tanggung?

Kalau melihat keadaan sebenarnya dari global warming rasanya mengiris banget, banyak sisi ironis yang sangat bertentangan. Ya, sangat bertentangan dimana sebagian manusia ingin kehidupan yang sejuk, damai dan pokoknya tanpa ada polusi udara yang menggangu. Ada sebagian lagi yang tidak peduli dengan itu semua, asal kebutuhaannya tercukupi. misalnya? banyak kok, ada bus yang ngawur dengan mengeluarkan banyak asap, tidak ada perbaikan mesin (karena katanya nambah biaya, ada-ada saja usul nya)
saya selalu menyoroti penyebab masalah yang satu ini, asap yang menggumpal dari knalpot, kenapa tidak menjadi pikiran utama, karena saya rasa itulah yang paling menyumbang asap tak berguna di langit kita. Bisa dibanyangkan berapa ton asap yang dikeluarkan bus di indonesia dalam sehari? kalau kayak gitu gimana ga kena global warming? Pantes kan kalau kita kepanasan.

Permasalahan yang lain adalah kurangnya masyarakat kita untuk bersahabat dengan lingkungan dan alam. Sepertinya mereka tidak punya etika dengan alam, asal ambil aja, tidak peduli dengan nasib mereka, misalnya ? ini banyak juga kok ada penebang hutan sembarangan, perambah hutan de el el deh. Intinya buat apa ? ya tentu saja mencukupi kehidupan ekonomi. Tapi ngomong-ngomong orang indonesia kok rela menukar hutan dengan sesuap nasi ? tidak tahu ya fungsi hutan ?
Coba banyangkan, indonesia tidak memiliki hutan, sejak dulu penduduknya sudah pada lari ke negri sebrang. Untung saja ada karunia ini.
hasilnya ? cuaca menjadi sangat panas, yang dulunya sejuk, sekarang jadi amburadul. Suhu berubah, bumi juga. Dari keadaan panas ini, saya lebih memilih musim penghujan, meski kadang banjir, tetapi lebih baik dari pada panas.

AddThis Social Bookmark Button

0 comments

Post a Comment